Catatan Perjalanan

Aku mengawali menulis catatan ini di ruang tunggu A2 Bandara Soekarno Hatta Jakarta, saat pesawat yang akan membawaku pulang ke Surabaya mengalami penundaan sekitar dua jam dari jadwal keberangkatan, pada suatu sore yang cerah yang lalu beranjak menjadi malam. Pada waktu memasuki ruangan ini dan melihat suasana begitu ramai dan penuh sesak dengan para calon penumpang aku sudah dapat memperkirakan, pasti telah terjadi penundaan penerbangan. Entah kenapa aku sudah menganggap ini jadi hal yang umum untuk sebuah penerbangan siang-malam hari, mungkin karena sudah terbiasa dan tidak juga ada peningkatannya. aku hanya menghela nafas pendek sebentar dan berharap penundaan itu tidak terlalu lama. Aku melihat ke sekeliling ruangan yang penuh sesak mencari apakah masih ada kursi yang bisa kududuki dan beruntung masih menemukan satu. Setelah duduk beberapa saat dan tidak ada juga pengumuman tentang pesawatku yang seharusnya sudah boarding 10 menit yang lalu, aku menanyakan pada petugas dan dijawab dengan permohonan maaf bahwa penerbanganku akan ditunda paling tidak dua jam lagi. Aku hanya bilang “Ooo..”, mengucapkan terimakasih atas informasinya, lalu kembali ke tempat duduk. Mau bilang apa lagi? Kenyataannya hampir semua maskapai penerbangan di negeri ini belum bisa memberikan garansi tepat waktu, marah-marah atau menggerutu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Setelah menelpon suami agar tidak keburu menjemput, aku mulai mencari posisi yang nyaman untuk membaca buku yang kubawa. “Bilangan Fu” buku terbaru Ayu Utami sudah kubaca hampir pada bagian akhir, sebentar kemudian aku melupakan keadaan disekelilingku dan tenggelam dalam bagian akhir bacaan yang membuatku terharu biru.

Buku sudah selesai kubaca, aku melirik ke arlojiku, sudah setengah jam lebih, kami masih saja menunggu. Aku menelpon sahabatku, berbagi cerita dan kejengkelan untuk mengusir kebosanan, tapi setelah itu selesaipun, kami masih juga harus menunggu, jadi mulailah aku memperhatikan sekelilingku dan menuliskan ini. Aku mengamati berbagai macam tingkah orang-orang yang sedang menunggu, ah.. sebagian besar tampak kesal, capek dan menunggu dengan tidak nyaman. Kira-kira seperempat jumlah orang diruangan ini tidak kebagian tempat duduk, mereka berdiri bersandar dimana saja mereka bisa bersandar, bahkan kulihat ada rombongan bule yang duduk dilantai tanpa alas apapun. Sebagian orang yang duduk dekat televisi menonton berita sore, lumayan untuk mengusir bosan. Suara televisi itu yang dominan terdengar diruangan ini, disela-sela suara riuh orang berbicara atau bertelepon, sebagian yang kudengar bernada jengkel atas keterlambatan ini, yang lainnya bicara kesana-kesini. Orang-orang yang lain kulihat hanya diam, mungkin mereka sudah capek bicara, atau tidak ada lawan bicara, sebagian memainkan handphone mungkin ber-sms, sebagian sedang membaca koran, majalah atau buku seperti yang aku lakukan tadi.

Terdengar pengumuman keberangkatan pesawat yang jadwalnya dua jam lebih awal dari jam penerbanganku. Aku melihat ada kelegaan diwajah sebagian besar orang, tapi tidak sedikit juga yang masih tampak gusar, para calon penumpang itu bergegas bangkit dan berdesakan berjalan menuju pintu keluar. “Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan”, begitu kata orang, tapi sebenarnya dalam hidup ini ada sesuatu yang dapat dipelajari dari “hal menunggu”. Menunggu adalah menantikan sesuatu tapi tidak selalu berarti diam, kalau itu yang dilakukan memang kebosananlah yang akan datang. Menunggu dapat dapat dipahami sebagai suatu hal yang dinamis, sesuatu yang dilakukan, berkaitan dengan kesabaran, pengharapan dan pencapaian sesuatu. Pengharapan itulah yang membuat orang tetap hidup, hidup tanpa pengharapan, apalah artinya? Sebagian besar orang tidak bisa memahami arti “the art of waiting”, bersyukurlah yang bisa memaknainya, pernah atau sedang menjalaninya. Menunggu adalah bagian dari proses hidup, dan bukan sekedar waktu yang terbuang sia-sia dan membosankan bila bisa memaknainya.

Keberangkatan rombongan sebelumnya tadi membuat ruang tunggu terasa menjadi lebih sedikit lebih lapang, sekarang didepanku duduk sepasang suami istri bule setengah baya bersama anaknya yang kemudian kuketahui berusia 17 bulan dan pengasuhnya. Tadinya aku tidak memperhatikan sang anak karena tidur dalam kereta bayi, tapi begitu dia terbangun lalu berlarian dan berceloteh, barulah aku tahu bahwa anak perempuan ini adalah anak adopsi karena dia berwajah Melayu yang berkulit gelap dan berhidung pesek. Anak itu sangat lincah dan selalu tertawa, dia bahkan mengajakku bercanda dengan memukul-mukul kakiku. Ibunya menegurnya dan aku menjawab tidak apa-apa, “It’s OK, I think she ask me to play with her” kataku, aku juga menanyakan pada sang Ibu berapa usia anak itu , apa saja kata-kata yang sudah bisa diucapkannya dan dia menjawab dengan penuh rasa bangga seperti umumnya para ibu terhadap anaknya. Selebihnya kami hanya saling tersenyum melihat tingkah polahnya, anak-anak dimanapun selalu terlihat lucu dan mengagumkan,  lihatlah mata yang jernih dan wajah seorang anak yang polos dan tanpa beban, kehidupan terasa ringan saja baginya. Dulupun kita pernah jadi anak-anak, dan sampai sekarangpun selalu ada sisi anak-anak dalam diri kita yang tidak pernah mati, tapi kenapa kadang kita tidak bisa bersikap seperti mereka dalam memandang hidup yah? Aku cukup tahu diri untuk bersikap sopan tidak menanyakan hal-hal yang privasi bagi keluarga itu seperti mengapa dan darimana mereka mengadopsi anaknya, tapi rupanya seorang Ibu yang duduk dibelakangku tidak dapat menahan diri untuk ingin tahu tentang hal itu, dia menanyakannya pada sang pengasuh dalam bahasa Indonesia, bahasa yang mungkin tidak atau kurang dipahami orang tua angkat si anak. Dari cerita sang pengasuh aku mendengar bahwa anak itu ditelantarkan oleh orang tua kandungnya seorang perempuan muda pribumi dan laki-laki bule setengah baya (tapi kok wajah anaknya nggak ada tampang indo-nya sama sekali ya?), mereka bertengkar terus dan si anak tidak mendapat perhatian sampai jatuh sakit yang parah dan harus dirawat di rumah sakit. Orang tua angkatnya inilah yang akhirnya merawatnya dengan kasih sayang hingga dia sembuh, tumbuh dan pintar seperti sekarang ini. Dalam hati aku merasa miris dan marah mendengarnya, betapa ada orang yang telah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk dititipi seorang anak tega menelantarkannya, tapi kemudian juga merasa lega melihat bahwa ada orang lain yang telah menggantikan posisinya, memberikan kasih sayang, perlindungan dan segala yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca saat memandang ayah-ibu-anak itu bermain dengan riang, terlihat cinta kasih besar yang memancar diantara mereka bertiga, kasih tidak memandang asal-usul, suku bangsa dan lainnya, kasih itu sesuatu yang agung dan universal, suatu yang hakiki dari hidup !

Lamunanku terputus saat mendengar pengumuman yang melegakan, ternyata kami tidak harus menunggu sampai dua jam, sekarang saatnya boarding, aku bangkit dengan riang, berjalan menuju lorong, masuk ke kabin pesawat dan duduk dengan nyaman di kursiku. Sudah menjadi kebiasaanku selalu minta window seat terutama kalau bepergian seorang diri, aku sangat senang menikmati pemandangan dari jendela. Satu hal yang membuatku tidak terlalu menyukai perjalanan kali ini adalah karena aku harus melalui perjalanan malam hari (kalau tidak ditunda ini akan jadi perjalanan sore yang menyenangkan). Sebenarnya bukan takut tapi lebih pada perasaan tidak nyaman, aku tidak suka berada dalam keadaan gelap, gelap itu bukan aku, aku adalah anak terang. Sesaat setelah take off perasaanaanku agak terhibur dengan adanya pemandangan kerlap-kerlip lampu kota dibawah sana. Adanya titik-titik cahaya sudah membawa suasana lain dalam kegelapan.

Aku mulai memejamkan mata dan menyenandungkan Mazmur 23, ritual yang selalu kulakukan tiap naik pesawat sejak beberapa tahun yang lalu. Selama ini aku tidak pernah punya masalah dengan penerbangan, aku bersyukur aku bukan orang yang takut ketinggian, bukan juga orang yang terlalu kuatir atas berita-berita aksidental penerbangan, semuanya terasa menyenangkan atau biasa saja sampai suatu ketika, dalam sebuah penerbangan malam hari kami mengalami gangguan cuaca yang buruk dan turbulensi. Saat itu semua penumpang merasa ketakutan dan panik, termasuk aku yang baru pertama kali mengalaminya, aku merasa pusing dan sangat mual oleh goncangan-goncangan yang keras, diluar kulihat langit gelap pekat diselingi petir yang berkilat-kilat sangat menakutkan. Dalam ketakutanku aku teringat bagian dari Mazmur 23 “….sekalipun aku berada dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku…”  Aku memejamkan mata dan dengan berbisik kuucapkan setiap kata dalam Mazmur 23 yang sangat kuhafal, bukan sekedar berkata-kata tapi sungguh-sungguh dari hatiku pada keadaan yang sangat pasrah dan berserah, siapa lagi yang dapat kuandalkan selain Dia?

 

Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku

Ia membaringkan aku ke padang yang berumput hijau

Ia membimbing aku ke air yang tenang, Ia menyegarkan jiwaku

Ia menuntunku ke jalan yang benar oleh karena NamaNya

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya

Sebab Engkau besertaku, gadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku

Engkau menyediakan hidangan bagiku dihadapan lawanku

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh melimpah

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku

Dan akupun akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa

Saat aku selesai mengucapkannya aku membuka mataku, diluar masih gelap, petir masih kelihatan berkilat bersahutan, goncangan masih terasa, semuanya masih sama seperti sebelum aku berdoa, tapi perasaanku yang sudah berubah, tak kurasakan lagi ketakutan yang mencekam, tak ada lagi perasaan tak aman yang ada hanya yakin akan penyertaan Tuhan, itu membuatku merasa lebih baik. Akhirnya kami selamat sampai di Surabaya, saat landing seluruh penumpang menghela nafas dengan lega, termasuk aku. Sejak saat itu Mazmur 23 tak pernah lepas dari ‘ritual’ku setiap naik pesawat -apapun keadaannya- juga malam ini.

Saat aku selesai berdoa, lampu pesawat sudah dinyalakan kembali, sabuk pengaman sudah boleh dilepaskan tapi aku selalu tetap mengenakannya sampai waktunya turun nanti. Para pramugari kembali hilir mudik, aku memandang aktivitas mereka dengan senyum, jadi teringat waktu kecil dulu aku ingin sekali jadi pramugari karena mereka cantik dan ramah, selalu siap membantu orang lain, bisa keliling dunia, bekerja sambil melancong, melakukan semua yang kusukai..wah betapa asyiknya… sayangnya cita-cita itu tidak pernah kesampaian karena ternyata tinggi badanku tidak memenuhi syarat..hihihi… Tapi ternyata dikemudian hari aku mempunyai pekerjaan yang sama menyenangkannya, memang tidak keliling dunia tapi aku melakukan sesuatu yang aku sukai yang punya arti untuk orang lain, pekerjaan yang kucintai dan aku bersyukur karenanya.

Saat pramugari mengumumkan bahwa sesaat lagi kami akan mendarat di bandara Juanda Surabaya aku merasa lega, nah akhirnya kami akan sampai pada akhir perjalanan ini. Aku melirik sekilas pada para penumpang disekitarku, apakah mereka akan pulang kerumah juga seperti aku atau hanya sekedar singgah? Apa mereka masih akan meneruskan perjalanannya lagi? Kemanapun itu, setiap perjalanan pasti akan berakhir di satu tujuan, apakah itu sesuatu yang tetap ataupun sementara. Hidup ini bukankah juga suatu perjalanan? Mungkin ada beberapa perjalanan yang harus dijalani, beberapa tempat yang mungkin harus disinggahi sebelum mencapai tujuan akhir, tapi sungguhkah kita tahu pasti tujuan apa yang akan dicapai? Kalau hidup tanpa tujuan bukankah perjalanan kita hanya akan berputar-putar tanpa arah yang pasti? Pasti akan sangat melelahkan.

Aku melayangkan pandanganku ke jendela dan melihat kerlip-kerlip lampu kota dibawah sana, makin lama makin dekat. Ah, disana itu rumahku, ada kerinduan yang terasa… aku pulang…Untukku –dan aku yakin sebagian besar orang- pulang ke rumah dan bersama dengan orang-orang yang tercinta adalah tujuan yang menyenangkan setelah menempuh berbagai perjalanan apalagi perjalanan yang panjang. Kalau nanti tiba waktuku hal yang kuinginkan pada akhir perjalanan hidupku adalah diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa, seperti ayat terakhir Mazmur 23.

Pesawatku sudah mendarat dengan selamat,

Aku mengawali menulis catatan ini di ruang tunggu bandara pada awal perjalananku, dan saat aku mengakhirinya aku sudah sampai pada tujuan akhirku pada perjalanan kali ini, pulang kerumahku yang hangat, dekat dengan belahan jiwaku

Bagiku setiap perjalanan selalu membawa cerita. Nah, saat ini sekian dulu ceritaku yah. Salam!

Leave a Reply