Berkibarlah Benderaku

Bulan Agustus adalah saat dimana suasana semarak dengan nuansa merah putih. Sejak awal bulan ini, diberbagai tempat banyak dijumpai para penjual bendera merah putih dari ukuran yang besar sampai ukuran kecil, yang berbahan kain bahkan kertas dan plastik, tak jarang mereka menjajakannya di perempatan jalan pada saat kendaraan berhenti di lampu merah.

Bendera Sang Merah Putih yang biasanya hanya dikibarkan di instansi-instansi pada suasana formal, pada bulan ini akan tampil dalam berbagai bentuk dan menghiasi seluruh sudut kota, tak ketinggalan juga di lingkungan perumahan, membuat suasana meriah dalam menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Beberapa hari lalu, setelah bendera terpasang di tiang depan rumah, kami jadi tertawa kecil memandanginya, baru sadar kalau ternyata bendera yang kami pakai ini umurnya sudah lebih dari delapan tahun, tak heran warnanya, khususnya yang putih tidak lagi cemerlang bahkan cenderung kusam, jadinya seperti bendera pusaka..hahaha…. Ah, tapi tak apalah, dia masih terlihat gagah berkibar didepan rumah membawa semangat memperingati hari merdeka, (tapi tampaknya tahun depan benar-benar sudah waktunya ganti dengan bendera yang baru deh…hehehe…)

Hei, aku kok jadi tertarik memperhatikan tentang bendera !

Apa sih sebenarnya arti bendera suatu negara? Setahuku, bendera adalah simbol suatu negara, oleh karena itu maka desain, warna dan bentuknya mempunyai makna dan filosofi yang mencerminkan jati diri dari bangsa tersebut. Biasanya bendera negara berbentuk segi empat tetapi ternyata ada bendera negara dengan bentuk khusus, misalnya bendera Nepal yang berbentuk seperti dua segitiga yang saling bertumpuk.

Warna bendera negarapun bervariasi, ada yang hanya satu warna tetapi banyak juga merupakan kombinasi dua macam warna atau lebih, tentu saja masing-masing pilihan warna itu mempunyai filosofi yang diyakini oleh warganegaranya. Sebagian bendera negara di dunia juga menambahkan adanya simbol atau gambar yang menunjukkan ciri khas negaranya, lihat saja daun maple pada bendera Kanada, atau gambar Angkor Wat pada bendera Kamboja.

Meskipun ada berbagai macam warna tetapi rupanya ada warna-warna tertentu yang banyak dipakai pada berbagai bendera negara misalnya merah, putih, biru, kuning. Bendera negara kita, merah-putih rupanya sama dengan bendera Monako, dan mirip dengan bendera Polandia yang susunannya terbalik yaitu putih-merah. Tapi tidak hanya kita, ternyata bendera Belanda dan Luxemburg juga serupa susunan dan warnanya yaitu merah-putih-biru, masih ada lagi juga Rumania dan Chad dengan warna biru-kuning-merah. Ada satu negara yang benderanya hanya terdiri satu macam warna dan sama sekali tanpa simbol atau gambar apapun, itu adalah bendera Libya yang berwarna hijau polos!

Kembali ke bendera negara kita, Sang Merah Putih.

Tentu ada alasan kuat yang mendasarinya saat Sang Merah Putih ditetapkan sebagai bendera negara seperti yang tercantum pada UUD 1945 pasal 35. Sebenarnya aku ini orang yang sangat awam akan masalah kenegaraan, tapi aku ingat waktu sekolah dulu pernah diajarkan bahwa warna merah adalah merupakan lambang keberanian dan kewiraan sedangkan warna putih merupakan lambang kesucian dan setelah aku beranjak dewasa baru kusadari betapa dalam maknanya.

Dalam berbagai catatan sejarah diketahui bahwa bendera merah-putih dalam beberapa bentuk dan istilah telah digunakan oleh kerajaan-kerajaan kuno di tanah air ini. Merah-putih ini telah disebut oleh Mpu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama sebagai warna yang digunakan pada berbagai upacara kenegaraan di masa pemerintahan Hayam Wuruk di Kerajaan Majapahit. Pada masa yang lain, bendera merah-putih yang disebut sebagai “gula kelapa” juga dikibarkan oleh Sultan Ageng, dan dalam versi lain pula ditemukan pada pusaka peninggalan kerajaan Melayu-Minangkabau.

Pagi ini, waktu mengikuti Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke- 63, ada perasaan yang berdesir tak terkatakan saat aku melihat Sang Merah Putih dikibarkan. Bendera memang hanya sebuah benda, tapi saat dia dikibarkan, ini merupakan simbol kehormatan dan kebanggaan suatu negara, ada makna yang dibawanya.

Aku membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang ada di Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta, saat Sang Merah Putih dikibarkan untuk pertama kalinya sebagai bendera negara seusai pembacaan proklamasi negara Republik Indonesia? Mungkin perasaan campur aduk antara haru, bangga dan semangat yang bergelora atas kemerdekaan dan kehormatan negara tercinta, bendera itu bisa ada disana, berkibar dengah perkasa sebagai hasil dari perjuangan panjang yang tak kenal lelah dan patah semangat dari para pahlawan bangsa.

Aku membayangkan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, bagaimana heroiknya arek-arek Suroboyo itu berjuang untuk mengibarkan Sang Merah Putih diatas Hotel Oranje sebagai simbol kehormatan bangsa untuk lepas dari penjajah.

Aku membayangkan perasaan para atlit bulutangkis dan segenap pendukungnya saat Sang Merah Putih dikibarkan diiringi lagu Indonesia Raya di arena Olimpiade, rasa haru dan bangga yang seolah meledak memenuhi dada, telah mempersembahkan yang terbaik bagi negara tercinta, mengharumkan nama bangsa di mata dunia.

Pagi ini, waktu melihat Sang Merah Putih dikibarkan,

ada semangat rasa cinta tanah air yang terbangkitkan. Aku cinta Indonesia, ini negeri yang indah dimana Tuhan tempatkan aku didalamnya, kalaupun saat ini kondisinya ‘carut marut’ diberbagai segi tapi bukan alasan untuk tidak menghargainya. Aku ada didalamnya, aku mungkin bukan siapa-siapa yang punya peranan besar untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, tapi dari peran dan bagianku yang kecil sebagai warganegara, dalam kemampuanku, bila kulakukan dengan sungguh-sungguh aku yakin akan menjadi suatu sumbangsih yang berharga bagi negeriku.

Pagi ini, semangatku bangkit mengikuti beat riang lagu “Bendera” dari band Coklat

Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi ku slalu mencoba tuk melindungimu

Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi slalu kucoba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi slalu kucoba tuk mengindahkanmu

Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa
Kupertahankan kau demi tumpah darah
Semua pahlawan-pahlawanku

Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Ku kan selalu menjagamu

 

 

 

 

4 Responses to “Berkibarlah Benderaku”

  1. yakub Says:

    Berkibarlah benderaku, lagu itu dinyanyikan Ita ketika Aku dan Bapak memasang bendera di depan rumah. Lalu dia hormat bendera. Ita memang suka nyanyi lagu perjuangan.

    Malam 17 Agustus, ada tirakatan. Biasanya di kampung ku diisi dengan perkenalan warga baru dan lomba untuk anak, remaja, juga bapak dan ibu. juga ada doa dan renungan singkat. Demikian pula terjadi di tahun ini.

    Saat lomba selesai lalu ada penyerahan hadiah. dan khusus untuk anak yang ga menang atau belum bia ikut lomba (kayak ita itu) juga dikasih hadiah. Tapi harus nyanyi lagu Nasional. Tahun ini ada 9 anak yang dikasih hadiah khusus ini, dan mereka menyanyikan lagu Garuda Pancasila.

    Yang menarik kemarin adalah saat anak-anak lain disuruh duduk, Ita tetap berdiri di depan semua orang, lalu ibune mendekat, eh tiba-tiba Ita nyanyi lagi lagu kebangsaan: INDONESIA RAYA, kami semua terperanjat dan lalu ikut menyanyi mengiringi ita sambil tepuk tangan…. suasana sungguh mengharukan dan bagiku juga membanggakan.

    Kita kadang sudah lupa lagu itu… dan tidak ada perasaan apa-apa saat menyanyikannya.. tapi malam itu terasa berbeda.
    terakhir kali aku merasakan seperti ini saat masih jadi Paskibraka dulu, sampai nangis saat melihat Sang Saka berkibar perlahan naik diiringi lagu Indonesia Raya… MERDEKA MBAKYU !!!

  2. tanti Says:

    Merdeka !!!!

  3. Erna Says:

    Wah.. aku kemaren gak ikut upacara Tan.. 2 tahun ini aku prei.. ya semoga tahun depan kondisi L5-S1 membaik sehingga bisa ikut lagi..

  4. lia Says:

    sama aja semuanyua gak sesuai sama yg diharepin

Leave a Reply