Hukum Probabilitas
Aku bukan orang yang pintar matematika karena tidak begitu pandai berhitung dengan angka-angka, kalaupun waktu sekolah dulu aku bisa, kemampuanku sih standar saja. Tapi kali ini aku jadi ingat tentang sesuatu yang berkaitan dengan hukum probabilitas. Probabilitas adalah peluang suatu kejadian. Kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi di masa mendatang dapat dihitung dalam suatu ukuran yang berupa angka peluang, seingatku rumusnya, begini nih :
Probabilitas suatu peristiwa = jumlah kemungkinan hasil / jumlah total kemungkinan hasil.
Aku ingat contohnya, kalau mata uang logam seratus rupiah dilemparkan ke udara, pada saat ditangkap dengan telapak tangan waktu jatuh nanti, berapa besar angka peluangnya untuk muncul sisi yang bergambar burung garuda? Nah, kalau ini mudah saja menghitungnya, karena ada dua sisi yaitu sisi yang bertuliskan angka 100 dan sisi yang bergambar burung garuda maka peluangnya adalah ½. Semakin besar jumlah total kemungkinan hasil, semakin kecillah angka peluangnya.
Banyak hal yang bisa dilihat dari penerapan hukum probabilitas ini dalam kehidupan sehari-hari, dan ada beberapa kejadian yang kulihat dan kualami beberapa waktu terakhir ini. Diawali dengan adanya undian mobil mewah dari salah satu Bank dimana aku adalah salah satu nasabahnya. Hadiah ini memang sangat menggiurkan, membuat orang tertarik untuk menjadi nasabahnya, atau yang sudah jadi nasabahnya berlomba-lomba untuk menaikkan saldo tabungannya dengan harapan mendapatkan hadiah utama. Selama ini aku belum pernah menang, tidak juga pada undian periode kemarin itu. Kecewa? Ah, nggak juga, karena aku sudah bisa memperkirakan kalau peluangnya memang sangat kecil jadi yah, berharap secara realistis gitu deh.
Tapi dalam hidup ini memang banyak hal yang dapat menjadikan kita takjub kalau ternyata pada suatu angka peluang yang kecil ternyata kita telah menemukannya atau bahkan kitalah yang ada didalamnya. Entah itu yang disebut faktor keberuntungan atau ketidakberuntungan, faktanya adalah ternyata kita berada didalam angka yang kecil itu.
Minggu lalu. teman kerjaku yang sedang bertugas ke Jogjakarta menelponku hanya untuk memberitahukan kalau dia sedang menginap di Hotel Melia Purosani dan tanpa reservasi atau permintaan khusus ternyata dia menempati kamar yang sama yang beberapa bulan yang lalu pernah kami tempati pada suatu acara konferensi. Kok bisa ya, padahal ada puluhan kamar disitu, kok dapatnya yang ini… nah, pada angka peluang yang kecil itulah dia berada.
Lain lagi kejadian dua minggu sebelumnya, kali ini ceritanya tentang weton. Sebagai orang Jawa yang tidak pernah memperhatikan weton atau hari lahir, aku sempat takjub waktu bertemu dengan teman baru yang secara tidak sengaja kuketahui ternyata punya weton sama denganku yaitu Jumat Pahing dan kebetulan dalam beberapa hal pula punya beberapa kesamaan dalam minat dan pemikiran… hahaha…kami sama-sama tertawa menyadarinya…ada juga ternyata orang yang wetonnya Jumat Pahing, dia orang pertama yang kutemui punya weton yang sama denganku. Dalam peluang yang kecil aku ternyata menemukannya.
Tapi yang paling lucu adalah kisah temanku Aprilia. Sebagai dokter gigi yang sibuk dan ibu muda dari dua jagoan cilik balita dia sangat memerlukan bantuan pembantu rumah tangga dalam aktivitasnya sehari-hari. Tahu sendiri deh, sekarang ini susah mencari pembantu rumah tangga yang cocok, sebentar ganti, keluar masuk, gitu deh. Suatu ketika setelah beberapa saat mencari dia mendapat kandidat yang sesuai dan mulailah dia meng-interview seperti layaknya seleksi masuk calon pegawai. Diawali dengan pertanyaan namamu siapa? Dan dia menjawab : “Aprilia”. Hah? Glodak…Aprilia-temanku terkaget-kaget dengan suksesnya… Berapa banyak sih orang yang namanya Aprilia? kok ya ini pas ketemu nama yang sama. OK deh, namanya sama Aprilia, lalu panggilannya siapa? “Lia” jawabnya lagi. Hah? Glodak yang kedua.. lha kok sama lagi… Nama lengkapmu siapa “Aprilia Fitri”, ya udah kalau begitu nanti dipanggil Fitri aja… dan akhirnya karena dia memenuhi syarat jadilah dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumahnya. Tapi apa yang terjadi? Dipanggil Fitri berkali-kalipun dia tidak menyahut atau datang… yah, bagaimana lagi, Aprilia-yang PRT ini orang yang lugu yang merasa kalau panggilannya adalah Lia jadi dia sekalipun dia tidak akan menoleh kalau dipanggil dengan nama Fitri… Terpaksa deh, ada dua "Lia" dirumah itu. Sekarang kami teman-temannya dikantor suka menggodanya.. “Mbak Lia, udah cuci piring belum?” atau "Mbak Lia, lantainya udah disapu belum?” dan Lia- temanku cuma bisa nyengir aja..…hahaha… Berapa besar sih peluang pembantu dan majikan yang bernama sama? Pastinya kecil angkanya, tapi disinilah duo-Aprilia ini berada… Kalau Shakespeare bilang “What is in a name”, wah buat Aprilia itu pasti sangat berarti…hehehe….
July 7th, 2008 at 9:45 pm
huahaha….
betul seratus…
July 8th, 2008 at 1:29 am
Tan, ternyata ada yang lebih aneh dari sepatu kets putih kita ya? kalau sepatu itu kan bisa dijelaskan.. tapi kalau aprilia… wah aprilia… bikin aku tersenyum terus ..!