Archive for July, 2008

Twins

Thursday, July 31st, 2008

Pernah nonton atau masih ingat film Twins (1988)? Film itu memang lucu, bagaimana tidak? Arnold Schwazenegger yang tinggi besar dan kekar digambarkan sebagai saudara kembar Danny De Vito yang pendek dan gemuk, bukan saja postur dan wajahnya sangat berbeda satu sama lain, dalam film itu dikisahkan mereka memiliki sifat dan cara hidup yang saling bertolak belakang. Kenapa saya jadi ingat film itu, karena dalam beberapa hari terakhir ini entah kenapa saya melihat adanya beberapa peristiwa tentang fenomena kembar yang membuat saya berpikir tentangnya.

Beberapa hari yang lalu saat sedang menunggu lampu merah di traffic light saya iseng membeli koran Surya yang ditawarkan oleh seorang anak penjual koran, disitu ada suatu berita singkat dengan sebuah foto tentang sepasang kembar perempuan yang menikah dengan sepasang kembar laki-laki lalu masing-masing pasangan itu memiliki sepasang anak kembar pula yang semuanya adalah kembar identik.. Wah? Istimewa sekali… Saya jadi ingat berita di Jawa Pos beberapa hari sebelumnya dimana ada berita tentang pasangan di Jerman dimana sang suami berkulit putih dan istrinya berkulit hitam mendapatkan sepasang bayi kembar laki-laki, yang seorang berkulit putih seperti ayahnya dan satunya lagi berkulit hitam seperti ibunya! Ini kejadian yang sangat langka. Tampak dalam foto sang ibu dengan bangga menggendong kedua bayi yang berbeda itu, sementara sang ayah menatapnya dengan bahagia… wah, menakjubkan…!! 

Masih dipenuhi bayangan tentang pasangan kembar itu, malamnya tanpa sengaja waktu memindah channel televisi  saya melihat ada tayangan dimana ada sepasang gadis kembar sedang mengikuti suatu acara kelihatannya seperti kuis, dimana mereka ditempatkan dalam ruang terpisah dan tidak dapat saling melihat (tetapi penonton bisa mengamati keduanya) kemudian pemandu acara memberikan pertanyaan yang sama untuk masing-masing peserta dan meminta jawabannya diberikan bersamaan dalam gerakan dan isyarat tanpa suara. Ajaib, meskipun tidak bisa saling melihat, jawaban yang diberikan bisa sama, gerakan yang dilakukan sama!! Kok bisa ya?… Penasaran saya ingin tahu apa acara itu, dan setelah jeda iklan baru saya tahu acara itu judulnya “Super Twins” !! Baru tahu deh, maklum saya tidak tertarik dengan tayangan yang berupa kontes atau show yang “menjamur” dibeberapa stasiun TV –yang ditayangkan pada prime time dengan durasi yang sangat panjang- dimana jurinya, kontestannya dan atau keluarganya, juga pembawa acaranya akan saling berkomentar panjang lebar, aduh buat saya itu..”nggak banget” deh. (maaf untuk yang suka, ini masalah selera ). Pada tayangan Super Twins yang saya lihat hanya selintas tadi saya melihat ternyata itu adalah kontes untuk orang-orang kembar dalam hal talenta bernyanyi dan ada selingan kuisnya, dan saya surpised karena ternyata penontonnya pun adalah orang-orang kembar pula… wah! Saya selalu takjub melihat pasangan kembar apalagi kalau sangat mirip satu sama lain, nah ini ada banyak pula, wow… !! Kisah tentang anak kembar masih berlanjut, kemarin siang seorang sahabat –yang lama tidak berjumpa- tiba-tiba online, dan kami sempat ngobrol seru dimana salah satunya adalah topik favorit saya yaitu tentang anak kembar balitanya yang cantik dan lucu… ada-ada saja ulah si kembar ini…hehehe…

Kalau bicara tentang orang kembar pastinya bukan sosok Arnold Schwazeneger dan Danny De Vito yang terlintas dalam pikiran, apa miripnya kedua orang itu? Hahaha…Itu film komedi saja. Hal yang terlintas dalam benak sebagian besar dari kita tentang orang kembar adalah dua individu yang sangat mirip satu sama lain. Definisi kembar secara umum adalah dua anak (atau lebih) yang dilahirkan secara besamaan dalam satu persalinan. Secara teori, dikenal adanya dua macam kembar yaitu kembar identik (monozigot) yang dihasilkan dari satu sel telur dan kembar fraternal atau non-identik (dizigot) yang dihasilkan dari dua sel telur, yang terakhir ini sebenarnya sama saja seperti kakak beradik tetapi yang dilahirkan pada saat yang sama. Orang yang terlahir kembar, khususnya kembar identik biasanya mempunyai penampilan fisik yang mirip satu sama lain dan juga mempunyai keterikatan emosi yang kuat sehingga sering mempunyai sifat dan pemikiran yang serupa, meskipun ada juga beberapa yang tidak, tapi ini mungkin sebagian kecil saja. Tidak heran kalau mereka punya banyak kesamaan, mereka berbagi gen yang sama, mereka tumbuh bersama dalam rahim sang Ibu dan bahkan lahir ke dunia dalam waktu yang sama, bagaimana mungkin tidak ada keterikatan emosi yang kuat.

Saya takjub pada orang kembar, dan karena saya bukan orang kembar saya sering bertanya-tanya dalam hati bagaimana ya rasanya jadi orang kembar? Memandang saudara kembar pastilah bagaikan memandang cermin dan melihat diri sendiri dalam saudara kembar itu. Memiliki saudara kembar pastilah sesuatu yang sangat istimewa, eh bukan berarti saudara yang lain tidak istimewa lho tapi bahwa ada individu lain yang mirip dengan kita, bagian dari diri kita, bersama-sama selalu bahkan sejak dalam kandungan bukankah itu istimewa? Kalau sebagian orang mungkin pernah merasa sendiri dan sepi didunia ini, mungkin itu adalah hal yang tidak akan terjadi pada si kembar, selalu ada seseorang untuk berbagi. Sebagian orang mungkin merasa hampa tanpa cinta, tapi orang kembar –paling tidak- selalu punya seseorang yang dikasihi dan mengasihi, tempat untuk saling berbagi suka dan duka. Mereka selalu punya ikatan emosi yang kuat dan bisa saling merasakan,

kalau yang seorang sedih, yang lainpun berduka,

kalau yang seorang sakit, yang lainpun ikut merasakan,

kalau yang seorang bersuka cita, yang lainpun akan bergembira,

mungkin mereka akan saling mencari bila mereka terpisahkan

dan mereka akan saling menemukan, dimanapun mereka berada….

Aih, jadi terharu biru begini !

Hmmm… saya jadi berpikir, seru juga ‘kali ya kalau jadi anak kembar, atau punya anak kembar?… hehehe…

Somewhere Out There

Saturday, July 19th, 2008

What do you feel about people you love when they are far away from you?

You cannot meet them in person and being with them actually to show how you care

Maybe you can still talking to them by phone, for a while, if they are reachable,

but you cannot see them nor give them your lovely smile,

you cannot touch them nor give them your big hug

All you can do is just keep thinking about them,

bringing them into your pray,

wishing them all the best wishes,

and waiting for the time you will be together

It’s just like this lovely song “Somewhere out there” sung by James Ingram & Linda Rondstat (but I love it better when it sung by two little children as a theme song in the cartoon movie “An American Tail” - 1987)

Somewhere out there beneath the pale moonlight

Someone’s thinking of me and loving me tonight

Somewhere out there, someone’s saying a prayer

that we’ll find one another in that big somewhere out there

And eventhough I know how very far apart we are

it helps to think we might be wishing on the same bright star

And when the night wind starts to sing a lonesome lullaby

it helps to think we’re sleeping underneath the same big sky

Somewhere out there, if love can see us through

then we’ll be together,

somewhere out there,

out when dreams come true

Are your beloved ones somewhere out there, thousands miles away from you, or maybe in the other part of the world? Do you miss each other so much so that you wanna be together at once but distance keep you apart? Maybe you can listen to this song at http://www.youtube.com/watch?v=695OjkGWk-M& or sing along with me as what I used to do when I miss my beloved ones, for it really means a lot to me.

Hukum Probabilitas

Monday, July 7th, 2008

      Aku bukan orang yang pintar matematika karena tidak begitu pandai berhitung dengan angka-angka, kalaupun waktu sekolah dulu aku bisa, kemampuanku sih standar saja. Tapi kali ini aku jadi ingat tentang sesuatu yang berkaitan dengan hukum probabilitas. Probabilitas adalah peluang suatu kejadian. Kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi di masa mendatang dapat dihitung dalam suatu ukuran yang berupa angka peluang, seingatku rumusnya, begini nih :

Probabilitas suatu peristiwa =  jumlah kemungkinan hasil / jumlah total kemungkinan hasil. 

Aku ingat contohnya, kalau mata uang logam seratus rupiah dilemparkan ke udara, pada saat ditangkap dengan telapak tangan waktu jatuh nanti, berapa besar angka peluangnya untuk muncul sisi yang bergambar burung garuda? Nah, kalau ini mudah saja menghitungnya, karena ada dua sisi yaitu sisi yang bertuliskan angka 100 dan sisi yang bergambar burung garuda maka peluangnya adalah ½. Semakin besar jumlah total kemungkinan hasil, semakin kecillah angka peluangnya.

      Banyak hal yang bisa dilihat dari penerapan hukum probabilitas ini dalam kehidupan sehari-hari, dan ada beberapa kejadian yang kulihat dan kualami beberapa waktu terakhir ini. Diawali dengan adanya undian mobil mewah dari salah satu Bank dimana aku adalah salah satu nasabahnya. Hadiah ini memang sangat menggiurkan, membuat orang tertarik untuk menjadi nasabahnya, atau yang sudah jadi nasabahnya berlomba-lomba untuk menaikkan saldo tabungannya dengan harapan mendapatkan hadiah utama. Selama ini aku belum pernah menang, tidak juga pada undian periode kemarin itu. Kecewa? Ah, nggak juga, karena aku sudah bisa memperkirakan kalau peluangnya memang sangat kecil jadi yah, berharap secara realistis gitu deh.

      Tapi dalam hidup ini memang banyak hal yang dapat menjadikan kita takjub kalau ternyata pada suatu angka peluang yang kecil ternyata kita telah menemukannya atau bahkan kitalah yang ada didalamnya. Entah itu yang disebut faktor keberuntungan atau ketidakberuntungan, faktanya adalah ternyata kita berada didalam angka yang kecil itu.

      Minggu lalu. teman kerjaku yang sedang bertugas ke Jogjakarta menelponku hanya untuk memberitahukan kalau dia sedang menginap di Hotel Melia Purosani dan tanpa reservasi atau permintaan khusus ternyata dia menempati kamar yang sama yang beberapa bulan yang lalu pernah kami tempati pada suatu acara konferensi. Kok bisa ya, padahal ada puluhan kamar disitu, kok dapatnya yang ini… nah, pada angka peluang yang kecil itulah dia berada.

      Lain lagi kejadian dua minggu sebelumnya, kali ini ceritanya tentang weton. Sebagai orang Jawa yang tidak pernah memperhatikan weton atau hari lahir, aku sempat takjub waktu bertemu dengan teman baru yang secara tidak sengaja kuketahui ternyata punya weton sama denganku yaitu Jumat Pahing dan kebetulan dalam beberapa hal pula punya beberapa kesamaan dalam minat dan pemikiran… hahaha…kami sama-sama tertawa menyadarinya…ada juga ternyata orang yang wetonnya Jumat Pahing, dia orang pertama yang kutemui punya weton yang sama denganku. Dalam peluang yang kecil aku ternyata menemukannya.

      Tapi yang paling lucu adalah kisah temanku Aprilia. Sebagai dokter gigi yang sibuk dan ibu muda dari dua jagoan cilik balita dia sangat memerlukan bantuan pembantu rumah tangga dalam aktivitasnya sehari-hari. Tahu sendiri deh, sekarang ini susah mencari pembantu rumah tangga yang cocok, sebentar ganti, keluar masuk, gitu deh. Suatu ketika setelah beberapa saat mencari dia mendapat kandidat yang sesuai dan mulailah dia meng-interview seperti layaknya seleksi masuk calon pegawai. Diawali dengan pertanyaan namamu siapa? Dan dia menjawab : “Aprilia”. Hah? Glodak…Aprilia-temanku terkaget-kaget dengan suksesnya… Berapa banyak sih orang yang namanya Aprilia? kok ya ini pas ketemu nama yang sama. OK deh, namanya sama Aprilia, lalu panggilannya siapa? “Lia” jawabnya lagi. Hah? Glodak yang kedua.. lha kok sama lagi… Nama lengkapmu siapa “Aprilia Fitri”, ya udah kalau begitu nanti dipanggil Fitri aja… dan akhirnya karena dia memenuhi syarat jadilah dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumahnya. Tapi apa yang terjadi? Dipanggil Fitri berkali-kalipun dia tidak menyahut atau datang… yah, bagaimana lagi, Aprilia-yang PRT ini orang yang lugu yang merasa kalau panggilannya adalah Lia jadi dia sekalipun dia tidak akan menoleh kalau dipanggil dengan nama Fitri… Terpaksa deh, ada dua "Lia" dirumah itu. Sekarang kami teman-temannya dikantor suka menggodanya.. “Mbak Lia, udah cuci piring belum?” atau "Mbak Lia, lantainya udah disapu belum?” dan Lia- temanku cuma bisa nyengir aja..…hahaha… Berapa besar sih peluang pembantu dan majikan yang bernama sama? Pastinya kecil angkanya, tapi disinilah duo-Aprilia ini berada… Kalau Shakespeare bilang “What is in a name”, wah buat Aprilia itu pasti sangat berarti…hehehe….

Today is Present

Wednesday, July 2nd, 2008

When we watch the movie Kungfu Panda last night, it was not just the fun we got, but there was something that I captured and touched my heart. It was when Master Oogway said to Po-the Panda about not to worry to fulfill his destiny to be chosen as The Dragon Warrior, this is what he said :

“ Yesterday is memory,

  Tomorrow is mistery

  But today is a gift, that’s why we call it present !”

Yes, he was right !!

How many of us keep on look back at yesterday, do some regrets of what we did sometimes wish that things should be better when I did this or not to do that,

It is good to look back to make an evaluation to be better in the next but to regret? It does not bring anything good than just dissapointment.

Yesterday is memory!

And how many of us often worry about tomorrow,

about what we are going to do,

about what we are going to have,

about how life will be going when everything is hard in this uncertain world?

Worry - in some intensity and under some circumstances- is needed, specially when it lead to something good or an awareness. Say that “I am worry about getting sick, so I keep myself healthy by doing exercises and take only healthy foods” or “I am worry about getting fail in the exam, so I study hard for it”. But too much worry is not that kind of something that lead into goodness, for example worry about the future. Why should we worry about the future? Look at the birds of the air; they do not sow or reap or store away in barns, and yet God feeds them. Are we not much more valuable than they? See how the lilies of the field grow, they do not labor or spin. If that is how God clothes the grass of the field -which is here today and tomorrow is thrown into the fire- will He not much more clothe us? Who of us by worrying can add a single hour to our life? So, why should be worry about tomorrow, for tomorrow will worry about itself. Each day has enough trouble of its own.

Tomorrow is mystery !

But today is a gift.

Is this not a gift that when we wake up in the morning it means that we have a chance to life one more day?

Is this not a gift that every new day we have will bring new opportunities and hope as well?

This is the day The Lord has made

Let us rejoice and be glad in it.

Yes, today is present !