Oo.. kamu ketahuan…
Saturday, January 26th, 2008Siang itu kami berenam sedang makan siang bersama, saat seorang teman membagikan kisah pengalamannya …
“Semalam aku dapat kasus menarik” begitu dia membuka pembicaraan…
“Kasus apa?” hampir serempak kami bertanya. Teman kami ini dokter gigi yang praktek didekat sebuah kompleks perumahan yang ramai dan pasiennya lumayan banyak.
“Tadi malam itu sebenarnya aku udah selesai praktek dan lagi main bulutangkis tiba2 ditelepon untuk balik ke tempat praktek karena ada pasien yang urgen, terpaksa deh aku balik” tiba-tiba ekspresinya berubah dari serius ke jenaka “Ternyata pasiennya adalah seorang perempuan umur 30-an gitu deh”
“Cantik ya?…” serempak lagi kami menyahut, maklum teman kami ini adalah dokter yang berjenis kelamin pria. Dia cuma tersenyum-senyum sambil mengerdipkan matanya..huuh..dasar pria!
“Trus apa kasus urgennya?” kami bertanya tidak sabar..
“Kasus KDRT1)” jawabnya serius.
“Haa???” kami semua melongo.
”Gini ceritanya…pasien ini adalah korban KDRT, mukanya habis ditonjok sampe gigi-giginya melesak” jawab teman saya sambil pasang tampang serius lagi.
“Haa??” kembali koor kami bergema, disambung dengan pertanyaan yang bersahut-sahutan, “Siapa yang nonjok dia?”, “Siapa yang bawa dia ke praktek-an?”, “Seberapa parahnya? Apa dia masih sadar?”, “Kapan & dimana kejadiannya?”….sekarang teman saya tersenyum-senyum lagi, hepi banget dia udah sukses membuat kami semua antusias terhadap ceritanya.. “
“Perempuan itu ternyata seorang pembantu rumah tangga” dia meneruskan ceritanya
“Oo… jadi majikannya yang menganiaya dia?” tanya kami
“Bukan, yang menganiaya adalah pasangannya” jawabnya
“Lho… gimana sih?” salah satu dari kami menyahut..” Ooo.. jadi perempuan yang berprofesi sebagai PRT tadi dianiayanya oleh suaminya?” tanya teman yang lain
“Bukan juga” kata teman kami si empunya cerita..
Wah, ceritanya tambah berputar-putar, jadi siapa yang menganiaya dia?
“Yang nonjok dia tuh adalah pria selingkuhannya”….
“Ooooo….” lagi-lagi kami merespon dengan suatu paduan suara..”Gimana kejadiannya?”
“Dia datang ketempat praktek dengan diantar 2 orang satpam kompleks perumahan sebelah, satpam itulah yang melerai pertengkaran sepasang kekasih yang berujung dengan kejadian pemukulan itu” mulai jelas deh kronologi kejadiannya.
“Wah, kasian ya tuh cewek, abis dipacarin, dipukuli trus ditinggalin” seorang dari kami nyeletuk.
“O, jangan salah… cowoknya juga ikut nganterin kok” kata teman saya…Ah, bagus-lah, setidaknya dia nyesel atau bertanggung jawab atas perbuatannya atau karena nggak ada pilihan lain udah ketahuan sama satpam?
Dasar teman saya punya rasa ingin tahu yang tinggi, setelah anamnesa2) dan menanyakan kronologi kejadian dia masih sempat tanya tentang asal mula bagaimana keduanya bisa ‘jadian’.. Ini cuplikan tanya jawabnya disela-sela merawat sang pasien…
“Gimana ceritanya Mbak, kok bisa bertengkar dengan suaminya?” dia membuka percakapan
“Dia bukan suami saya pak Dokter, suami saya ada didesa”…upps, salah ternyata…
“O.. kenapa kok Mbak sampai dipukul sama pacarnya ini?” dia meralat pertanyaannya
“Nggak, dia bukan pacar saya…dulu memang iya tapi sekarang saya nggak mau lagi jadi pacarnya” kata si pasien berapi-api…Lha iya-lah siapa juga yang mau setelah dipukuli begini. Dan setelah dikorek lagi dengan pertanyaan berikutnya barulah ketahuan kalo mereka bertengkar gara-gara si cewek cemburu.
“Cemburu sama siapa?” tanya kami pengen tahu.
“Cemburu sama istri cowoknya”…
Lho? … pecahlah tawa kami antara kasihan dan geli…Nggak salah tuh, kok cemburu sama ‘pihak yang berwenang’… Tawa kami semakin meledak saat teman kami menceritakan hasil dari interogasinya tentang asal-usul kisah perselingkuhannya. Rupanya kisah itu berawal dari telepon salah sambung si cowok kerumah majikan si cewek…dari telepon itu jadilah mereka saling berkenalan dan akhirnya berselingkuh… what a story..kisah yang konyol sekali untuk ukuran dua orang dewasa yang sama-sama sudah berumah tangga…
“Lho, ceritanya belum selesai” kata teman saya… “Setelah dirawat lukanya malam itu, besok malamnya dia harus datang lagi untuk prosedur selanjutnya”.
“Jadi cewek itu dateng lagi?” tanya kami
“Iya-lah..dia datang…” jawabnya
“Cowoknya juga? Dia masih bertanggung jawab?” sebagian dari kami geram terhadapnya yang telah tega menganiaya seorang wanita..
“Iya, cowoknya juga datang…” jawab teman kami sambil tersenyum-senyum…
” ..datang bersama istrinya”… lanjutnya
“Haa?”..melongo lagi deh kami…
Dan cerita selanjutnya adalah terjadi pertengkaran babak kedua antara si istri dan si cewek selingkuhannya, “Oo.. kamu ketahuan, pacaran lagi..dengan dirinya….” gitu deh kira-kira background music-nya..he..he..he.. Waktu akhirnya teman saya udah selesai merawat dan mengatakan bahwa 2 minggu lagi pasien harus datang lagi untuk kontrol, si cowok mendekatinya dan berbisik dengan pasang tampang memelas…”Waduh Dok, saya nggak punya lagi biayanya…saya ini orang tidak mampu” kontan aja teman saya menjawab “Nggak mampu tapi kok mampu selingkuh?”… Ha..ha..ha..pecah lagi tawa kami membayangkan betapa ‘heboh’nya tempat praktek teman kami itu jadi ajang pertikaian gara-gara suatu perselingkuhan … weleh..weleh…
Kenapa ya akhir2 ini ada banyak sekali kisah selingkuh?… Siapa saja bisa berselingkuh, nggak cuma selebriti, orang2 biasa, termasuk pembantu rumah tanggapun bisa melakukannya. Rasanya sih kalau saya perhatikan, kata “selingkuh” itu sendiripun baru populer atau banyak digunakan belum terlalu lama ini deh…apa dulu tidak pernah ada perselingkuhan ya? Pastinya ada juga sih, tapi itu suatu aib jadi mungkin tidak terekspos, atau mungkin juga karena tidak banyak jumlah kasusnya. Saat ini, karena trend ini berjalan seiring dengan maraknya berbagai kasus kawin cerai apa benar ya sekarang ini memang ada pergeseran makna dari pernikahan?
Kalau menurut saya, itu terjadi karena orang terlalu menuruti perasaan, tidak bijaksana dan tidak bersikap dewasa. Waktu dua orang yang saling mencintai punya komitmen untuk hidup bersama yang diikat dalam tali pernikahan mestinya sadar bahwa perasaan cinta akan berjalan seiring perjalanan waktu, realita hidup bersama dan ada tanggung jawab yang menyertainya. Siapapun tahu jatuh cinta itu adalah perasaan yang paling indah, berbunga-bunga, berjuta rasanya, tapi -karena didunia ini tidak ada yang abadi- perasaan berbunga-bunga itu tidak akan selamanya ada, bukan berarti cinta akan hilang, tapi bentuknya tidak sama lagi, definisi dari rasa cinta itu akan berkembang seiring dengan perjalanan waktu, tidak lagi superfisial tapi menjadi lebih dalam maknanya. Tapi OK deh, realistis aja, mungkin dalam perjalanan waktu kita akan bertemu orang lain yang menarik lalu ‘klik’ dan rasanya bikin jatuh cinta lagi…tapi apa ya harus ditindak lanjuti dengan sebuah perselingkuhan? Jatuh cinta itu bisa saja terjadi pada siapa saja, cinta itu sendiri tidak salah, yang salah adalah kalau tidak bijaksana dalam meng-handle-nya. Siapapun setuju jatuh cinta itu berjuta rasanya, suatu perasaan yang paling indah, tapi kalau cuma ingin menuruti dan merasakan sensasi jatuh cinta, apalagi untuk mengalihkan perhatian atau lari dari permasalahan hidup, apa itu tindakan yang dewasa? Bukankah manusia itu dikaruniai perasaan, pikiran dan akal budi, jadi mestinya harus balans? apalagi dengan bertambahnya usia dan tanggung jawabnya, mestinya harus bijaksana dalam menghadapinya, mestinya harus bijaksana dalam menjaga suatu komitmen apalagi komitmen itu adalah komitmen dihadapan Tuhan (kan orang menikah harus sah secara hukum negara dan di mata Tuhan)
Pernah perhatiin nggak?..lagu-lagu pop Indonesia sekarang ini, banyak yang berkisah tentang perselingkuhan. Ini mungkin dipicu atau jadi pemicu maraknya kasus perselingkuhan yang banyak terjadi… Lihat aja, ada ‘Sephia’, ‘Jadikan Aku yang Kedua’ (heran deh, kok bangga sih, kok mau-maunya sih?), ‘Maafkan Aku Mencintai Kekasihmu’, bahkan ada yang ‘membungkus’ suatu perselingkuhan dalam suatu ‘kemasan’ yang seolah-olah itu adalah sesuatu yang indah…dengerin aja “Kekasih Gelap”-nya Ungu. Belum lagi kasus selingkuh tapi ketahuan, yang bikin ngetopnya Matta Band..”Oo..kamu ketahuan, pacaran lagi..” anak-anak kecilpun hafal syairnya…coba bikin daftarnya, masih ada banyak lagi deh yang lainnya. Salah satu temen senior saya pernah seharian ngomel, mengomentari dan memprotes lagu2 itu lalu membandingkannya dengan lagu2 jadul di jaman remajanya yang semuanya serba sopan dan ‘manis’, bicara tentang cinta, keindahan….
Iya juga ya…. Ah, tapi udahlah gak usah dipermasalahkan… sekali lagi, dewasa aja-lah kita menyikapinya.
Siang itu saya dengar teman saya memutar mp3 di PC-nya, lagu pop Indonesia, kedengaran sebagian syair refrain-nya..”..ijinkan aku sekali saja, rasakan cinta yang lain..” ah, lagu tentang patah hati pikir saya, tapi suara penyanyi dan melodinya terdengar cukup manis, udah beberapa kali saya dengar lagu ini, lumayan juga…”Mbak, ini lagu siapa yang nyanyi sih?” tanya saya, “Ini lagunya She” jawab teman saya… O ya, saya tahu She, band cewek yang salah satu lagunya ‘Slow down baby’.. “Boleh dong minta di-copy-in” kata saya sambil mengulurkan flash disk… Dan setelah itu masuklah lagu itu ke laptop saya untuk segera saya nikmati sambil ngetik…Setelah saya add-kan file itu di Winamp barulah saya tahu kalau lagu manis tadi judulnya adalah….. “Selingkuh Sekali Saja”…
Jadi syair “ijinkan aku sekali saja rasakan cinta yang lain” tadi itu minta diijinkan untuk selingkuh? sekali saja?
Heeh ??? Please deeh …!!!
1) KDRT : Kekerasan Dalam Rumah Tangga
2) anamnesa : proses tanya jawab dokter terhadap pasien untuk menggali riwayat penyakit